Sabtu, 26 November 2011

LAKRI "Selembar Uraian Yang Patut Kita Renungkan"





1 Muharram 1433 H


Bangsa Kita Terserang Disleksia Akut!

Disleksia, sebuah istilah yang mungkin jarang kita dengar, berasal dari bahasa Yunani: Dys berarti kesulitan, sedang lexis berarti bahasa. Istilah ini digunakan untuk mengidentifikasi gangguan kesehatan akan ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan orang tersebut untuk melakukan aktifitas literasi, seperti membaca, menulis, menghafal dan menganalisa teks.

Tentunya kita tak pernah menginginkan sanak keluarga kita mengalami gangguan kesehatan semacam ini. Namun, sangat memprihatinkan karena tanpa disadari bangsa kita mengidap penyakit ini pada stadium cukup tinggi. Berdasarkan ata Kemendiknas tahun 2009, tercatat 8,5 juta (5,03%) penduduk Indonesia pada usia 15 tahun ke atas yang masih buta aksara, dan sebagian besar didominasi perempuan. Sedangkan penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf di tahun yang sama menempatkan Indonesia di urutan 111 dari 173 negara.

Sangat memprihatinkan, memang. Selain itu, kita dapat menangkap gejala buruk ini dari merosotnya kualitas pemimpin di negeri ini. Coba kita telaah bersama para founding father bangsa seperti Bung Karno, Syahrir, Tan Malaka, Moh Hatta, dll, yang hidup di masa-masa pendidikan masih sangat langka, dan hidup dalam periode perjuangan yang sangat berat, belum lagi ditambah berbagai hukuman pembuangan maupun penjara, tetapi masih bisa melahirkan ide-ide progressif. Hingga saat ini kita masih dapat mempelajari beragam ide-ide segar dan progresif dalam beribu lembar karya tulis.

Mungkin, inilah yang dimaksud oleh Pramoedya Ananta Toer, salah seorang sastrawan terbesar Indonesia, saat mengatakan bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Sedangkan di era pasca kemerdekaan, terutama sejak Orde baru dibawah naungan Soeharto hingga era Reformasi kini, kita selalu saja disuguhi pemimpin-pemimpin disleksia yang “mati selagi hidup”. Mereka begitu mudah melupakan janji dan tanggung jawabnya. Mereka pun sulit menelurkan gagasan progress sebagai jalan keluar dari kemelut kemiskinan dan penjajahan gaya baru saat ini, apa lagi jika kita berharap mereka mampu melahirkan karya tulis agung seperti para pendahulunya.

Kondisi tak jauh berbeda pun dialami oleh jutaan jiwa anak bangsa yang tumbuh dalam dunia pendidikan. Ini nampak pada perilaku contek-mencontek yang sudah dianggap sebagai tradisi lumrah, yang secara sadar dilakukan secara turun temurun. Gejala buruk ini tak hanya dapat kita temui dari perilaku anak usia SD hingga SMA saja, tapi intelektual setaraf mahasiswa hingga professor pun kerap terjangkit penyakit mental yang sama. Seperti beberapa waktu lalu di media massa terungkap seorang professor yang sempat mendapat penghargaan rekor atas produktifitas karyanya namun ternyata hasil plagiat.

Ironis sekali, padahal bagi saya, anak Nusantara ini sangatlah berpotensi menjadi bangsa yang produktif menuangkan beragam gagasan cemerlangnya ke dalam bentuk tulisan sebagai jembatan yang akan menghubungkan dan menyebarluaskannya kepada orang lain hingga dapat dimaknai dan membuahkan perubahan di negerinya. Mengingat bahwa negeri ini dianugerahi keberagaman budaya maupun alam dan fenomenanya yang muncul sebagai lumbung subur bagi lahirnya ide-ide progresif.

Benang Kusut Sistem Pendidikan

Saya tidak mau menyalahkan masyarakat Indonesia yang budaya membacanya sangat rendah. Menurut penelitian CSM di 13 negara, pelajar setingkat SMA rata-rata membaca 0 buku per tahun. Bandingkan dengan Brunei Darussalam yang mencapai 7 buku minimal. Bagaimanapun, masyarakat hidup dan beregenerasi serta membangun budayanya dibawah naungan sistem kekuasaan negaranya.

Dengan demikian, buruknya budaya literasi yang kita alami saat ini merupakan hutang besar yang tertumpuk bagi pemerintah sebagai hasil “salah urus” dari sistem pendidikan nasional yang diterapkan selama ini. Pergantian kurikulum yang terus menerus berlangsung beberapa tahun terakhir menunjukkan ketidak seriusan pemerintah dalam merumuskan sistem pendidikan jangka panjang. Belum lagi dengan menjamurnya sekolah-sekolah swasta yang memiliki kurikulum tersendiri, membuat anak bangsa ini semakin terombang-ambing dalam ketidakpastian.

Selain itu, konsentrasi berlebihan pada ujian nasional membuat sebagian besar anak sekolah tidak berani bereksperimen membaca dan menulis. Mereka dipaksa berkutat dengan buku, banku, soal dan lembaga-lembaga kursus yang sangat terampil mendidik anak sebagai penjawab soal yang pintar namun miskin gagasan. Begitu pula yang terjadi di bangku perkuliahan, semua hal ini terutama harus difahami sebagai konsekuensi logis dari penerapan liberalisasi pendidikan oleh pemerintah.

Saat ini kita dapat kita amati perguruan tinggi tumbuh subur hingga ke pelosok. Tetapi, yang terasa ganjil adalah munculnya dominasi jurusan-jurusan popular yang sangat akrab dengan industri pasar tenaga kerja, dan mayoritas jurusan tersebut bukanlah jurusan yang menekankan pada aspek pembelajaran teoritik yang cukup banyak aktifitas baca-tulisnya, melainkan pembelajaran aplikatif yang harus berkesesuaian dengan kebutuhan industri. Hal ini semakin memperburuk keadaan karena melahirkan budaya “serba instant” di kalangan generasi muda.

Celah Perubahan

Analogi sepele yang saya fikir bisa memperkuat analisa ini adalah: mari kita lihat seberapa aktifnya masyarakat Indonesia dari segala usia dalam konteks rutinitas komunikasi melalui pesan singkat ataupun jejaring social di internet; mulai dari membuat status hingga saling komentar. Meski kualitas komunikasi dalam hal ini terbilang sepele, bagi saya, ini adalah bukti kuantitatif yang nyata bahwa masih ada titik cerah sebagai harapan kita bersama untuk terbebas dari penyakit disleksia akut yang selama puluhan tahun kita idap.

Berangkat dari analisa bahwa sumber kegagalan budaya literasi yang baik di negeri ini adalah buruknya sistem pendidikan nasional. Masih dalam kerangka memperingati Hari Literasi Internasional pada 8 September lalu, saya berusaha mengusulkan gagasan sederhana, sebagai berikut ;

Pertama, sangat dibutuhkan munculnya komitmen serius dari pemerintah melalui perombakan sistem pendidikan yang benar-benar memberi ruang kreatifitas dan menempa anak didik dalam budaya Literasi yang intensif. Hal ini sangat berkaitan erat dengan kurikulum pendidikan yang dipilih untuk pula disesuaikan dengan kondisi objektif pendidikan di tiap daerah masing-masing.

Kemudian pula berkaitan dengan kualitas SDM pendidik yang selama beberapa generasi ini cenderung dipenuhi oleh guru-guru yang terbiasa mengajar dengan pola monolog dan kurang interaktif apalagi memantik minat baca-tulis siswanya. Mengingat belakangan ini sekolah tinggi keguruan sedang pula menjamur dan diserbu banyak calon mahasiswa, ini menjadi momentum baik untuk memutus generasi pendidik yang kolot dengan sistem pendidikan yang juga belum tepat, para calon guru yang akan membludak pada beberapa tahun mendatang ini harus pula terlahir sebagai insan pendidik yang kaya wawasan dan produktif menulis.

Kedua, masih berkaitan dengan komitmen pemerintah, seharusnya ada gerakan memassalkan budaya baca-tulis melalui berbagai program, semisal membuka peluang-peluang prestasi Literasi melalui berbagai perlombaan dan penghargaan, memassalkan program membaca nasional dengan membuka perpustakaan keliling sampai ke desa-desa atau RT-RT, juga secara rutin membuka ruang bazaar buku yang juga sudah tersubsidi di kawasan pendidikan agar lebih mudah dijangkau masyarakat.

Ketiga, yang pula penting adalah segera mencanangkan subsidi kertas sebagai kebijkan pro rakyat demi menopang penempaan Sumber Daya Manusia Indonesia. Hal ini mengingat masih banyaknya anak bangsa yang produktif menulis dan berwawasan segar, tetapi kesulitan mengakses sumber daya. Belum lagi banyaknya penerbit dan toko buku yang terancam gulung tikar karena minat baca yang menurun. Subsidi kertas dari pemerintah dan kebijakan hak cipta yang jelas akan mampu menengahi persoalan ini.

Keempat Sebagi bagian dari masyarakat, kita, gerakan mahasiswa, harus mulai mempelopori tumbuh berkembangnya budaya baca-tulis, dan secara pro aktif membongkar paradigma lama soal budaya literasi hanya milik anak sekolahan. Melalui berbagai cara hal ini dapat dilakukan, semisal gencarkan gerakan citizen journalism juga dapat menjadi contoh baik yang harus dilakukan saat ini. Sekali lagi saya tegaskan disini, yang terutama dari semua gagasan sederhana ini adalah mulai saat ini juga kita harus muncul sebagai pelopor di lingkungan terdekat. Dengan begitu, cita-cita bangsa ini untuk Berdaulat dan Mandiri serta mencapai Revolusi kemerdekaan yang seutuhnya bukanlah omong kosong seperti yang selama ini kita alami.

Jumat, 25 November 2011

3 PASANGAN CALON BUPATI BEKASI 2012-2017

GEPENTA-BEKASI-Kamis, 24 November 2011
 Pasangan Calon Bupati Bekasi Periode 2012-2017 Hari Ini Resmi Terdaftar Di KPUD Kabupaten Bekasi, yaitu :

Tanggal, 25 November 2011 Akan dilaksanakan Test Kesehatan di Rumah Sakit AD GATOT SOEBROTO Jakarta




SAJA
KEDUNGWARINGIN - Pada pendaftaran pasangan calon bupati dan wakil bupati, Kamis (24/11), KPU Kabupaten Bekasi kedatangan pasangan dari PKS, Sa'duddin dan Jamalul Lail Yunus.

Pasangan calon bupati dan wakil bupati dengan jargon SAJA (Sa'duddin-Jamalul Lail Yunus) itu tiba di kantor KPU Kabupaten Bekasi sekitar pukul 13.00.

Setelah menyerahkan formulir pendaftaran, pasangan SAJA kemudian menerima berita acara pendaftaran dari Ketua KPU Kabupaten Bekasi Adi Susila.





NERO
KEDUNGWARINGIN - Yang mendaftar sebagai pasangan calon bupati dan wakil bupati, selanjutnya KPU Kabupaten Bekasi kedatangan pasangan koalisi Partai Golkar dan Partai Demokrat, Neneng Hasanah Yasin dan Rohim Mintareja.

Pasangan dengan jargon NERO (Neneng Hasanah Yasin-Rohim Mintareja) datang ke kantor KPU Kabupaten Bekasi sekitar pukul 16.30.

Setelah menyerahkan formulir pendaftaran, Ketua Kabupaten Bekasi Adi Susila kemudian menyerahkan berita acara pendaftaran pada pasangan NERO.





DAHSYAT
KEDUNGWARINGIN - Pendaftaran pasangan calon bupati dan wakil bupati di hari terakhir (Kamis, 24/11), ditutup dengan kedatangan pasangan Darip Mulyana dan Jejen Sayuti.

Pasangan dengan jargon DAHSYAT (Darip Mulyana-Jejen Sayuti) tersebut tiba di kantor KPU Kabupaten Bekasi pukul 21.00. Dengan kedatangan pasangan itu, dipastikan untuk Pemilukada 2012 diikuti oleh tiga pasangan calon bupati dan wakil bupati.

Pasangan DAHSYAT datang ke kantor KPU Kabupaten Bekasi untuk menyerahkan formulir pendaftaran. Selanjutnya, pasangan tersebut menerima berita acara pendaftaran dari Ketua KPU Kabupaten Bekasi Adi Susila.



Sumber Berita KPUD-BEKASI

Sabtu, 12 November 2011

GEPENTA KAB. BEKASI: SOSIALISASI PILKADA BUPATI & WAKIL BUPATI BEKASI 2012-2017

KPUD Kabupaten Bekasi bekerja sama dengan GEPENTA Kab. Bekasi Mengadakan sosialisasi Pilkada Bupati dan Wakil Bupati Bekasi Periode 2012-2017 bertempat di Aula Desa Mangunjaya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi dengan sasaran sosialisasi yaitu Pengurus DKM dan Majlis Ta'lim se Tambun Selatan Kabupaten Bekasi, kegiatan yang mengambil tema "Gunakan Hak Pilih Anda Dengan Cerdas dan Cermat" tersebut di hadiri oleh 98 peserta, 12 Panitia 1 tim sosialisasi KPUD Kab. Bekasi, 6 Personil Polisi 8 Hansip & Satgas GEPENTA yang di pimpin langsung oleh Wakapolsek dan juga Kepala Desa Mangunjaya sebagai tuan rumah.


Acara yang diawali Pembacaan Basmallah oleh Pembawa Acara dan kemudian dilanjutkan dengan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang dilatunkan dengan khidmat oleh peserta sosialisasi dipimpin oleh Ustajah Ummul menggungah rasa nasionalisme diantara peserta bahkan ada yang merasa sangat terharu !
Ketua Panitia Pelaksana H. Junaedi, M.Si yang juga Sekretaris DPK GEPENTA, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut terselenggara atas kepercayaan masyarakat Kabupaten Bekasi dan KPUD dengan DPK GEPENTA Kab. Bekasi oleh karena itu kedepan kepercayaan tersebut makin meningkat sehingga peran serta GEPENTA KAB. Bekasi langsung bisa dirasakan oleh masyarakat dan juga tidak lupa beliau sampaikan bahwa Pemilukada Bekasi Tahun 2012 adalah merupakan momentum arah pembangunan Kabupaten Bekasi 2012-2017 oleh karena itu beliau menyampaikan kepada peserta setelah kegiatan tersebut bisa menjadi motor untuk mensosialisasikan lebih ke bawah yaitu Majelis Taklim atau Jama'aah dimasing-masing wilayah Desa/Kelurahan tempat tinggal peserta.


Kepala Desa Mangunjaya Tambun Selatan Abu Hasan Ashari, menyampaikan rasa bangga dan rasa senangnya karena Desa Mangunjaya terpilih sebagai tuan rumah kegiatan sosialisasi Pilkada Kabupaten Bekasi tersebut beliau mengajak peserta terutama dalam wilayah desa Mangunjaya untuk meneruskan sosialisasi ini di lingkungan Masjid atau Mushollah dimasing-masing wilayah tempat tinggal, agar tingkat partisipasi masyarakat lebih meningkat lagi dalam menentukan Pimpinan Kabupaten Bekasi 2012-2017 nanti.

Polsek Tambun Selatan yang diwakili oleh Wakapolsek AKP. Sigit Wardono menyampaikan dukungan penuh Polsek Tambun Selatan atas penyelenggaraan sosialisasi sampai pelaksanaan Pemilukada yang aman tertib, bebas dan rahasia rakyat Kabupaten Bekasi bebas menentukan pilihannya pada Pilkada Bekasi bulan Maret 2012 nanti dan mengharapkan peran aktif masyarakat terutama DKM dan Majelis Ta'lim khususnya di wilayah Tambun Selatan terus mengkapanyekan/menyampaikan ke jama'ahnya agar terus meningkatkan persatuan dan kesatuan agar nanti pelaksanaan kampanyepun tetap damai dan berjalan sesuai jadual yang disusun oleh KPUD Bekasi.
Nara Sumber Anggota KPUD Kabupaten Bekasi Bidang Sosialisasi Rahmat Nuryono, S.IP.,M.Si menyampaikan bahwa perubahan pelaksanaan pemilukada dari contreng ke coblos merupakan amanah undang-undang oleh karena itu KPUD Bekasi bekerja sama dengan seluruh komponen masyarakat dan LSM berkewajiban mensosialisasikannya kepada masyarakat yang punya hak pilih agar dalam pelaksanaan atau penggunaan hak pilihnya nanti bisa tepat dan dapat menentukan kepemimpinan Kabupaten Bekasi periode 2012-2017, dalam kesempatan ini beliau juga mengharapkan partisipasi masyarakat terutama para pengurus DKM dan Majelis Ta'lim meneruskan informasi/sosialisasi tersebut ke wilayah masing-masing dan menekankan penting Pemilukada yang sukses aman, damai dan jauh dari kecurangan baik manypolitik ataupun tekanan/intimidasi pihak tim pemenang peserta pemilukada terhadap masyarakat agar memilih sesuai keinginan dia, kalau hal tersebut terjadi beliau dengan tegas mengatakan segera laporkan ke PANWASLU atau ke KPUD Kabupaten Bekasi melalui web : www.kpudbekasi.go.id
























Dalam kesempatan ini juga beliau menjelaskan bahwa calon perseorangan sampai dengan hari terakhir penutupan pendaftaran tidak ada satupun yang memenuhi syarat yang sudah ditentukan yaitu mendapat dukungan 3% dari jumlah penduduk kabupaten Bekasi atau sekitar 78.912 orang dengan bukti dukungan Foto Copy KTP dan Tanda Tangan pernyataan dukungan dan saat ini, 18 s.d. 24 Nov 2011 sedang berlangsung pendaftaran Calon Bupati & Wakil Bupati dan sampai hari ini sudah ada 4 (empat) calon yang sudah mengambil Formulir, dalam sesi tanya jawab terjadi sangat serius sekali dimana salah seorang Peserta Sosialisasi menyampaikan pengalamannya menjadi KPPS pada setiap pelaksanaan Pemiliham Umum ataupun Pikada honorarium yang didapatkan sangat tidak sebanding dengan rasa cape atau volume kegiata dimana hampir sebulan jadi KPPS hanya di kasi honor Rp. 400.000,-, sangat lugas dan tepat beliau menjawab bahwa sebenarnya anggaran terbesar dalam setiap Pemilihan Umum adalah honorarium KPPS tetapi kok dapatnya sedikit ?...., karena banyaknya TPS yang tentunya di kali jumlah personil KPPS sehingga hanya dapat honor sebesar empat ratus ribuan perorang, saat sekarang saja ada 3.712 TPS tersebar di 187 Desa/Kelurahan
Terakhir beliau tutup dengan permohonan maaf karena ada kegiatan wawancara dengan Radio maka beliau menyarankan apabila ada pertanyaan lagi bisa di tujukan ke web KPUD Kab. Bekasi tersebut di atas dan beliau mengucapkan terima kasih dan pengahragaan atas kerja sama GEPENTA Kabupaten Bekasi dengan KPUD Kab. Bekasi dalam Sosialisasi PILKADA 2012....... Red>HUMAS-INFO.KOM GEPENTA

Senin, 07 November 2011

FOTO DOKUMENTASI KEGATAN DPK GEPENTA BEKASI 2011

SPANDUK SOSIALISASI PILKADA BEKASI 2012
SPANDUK SOSIALISASI PILKADA BEKASI 2012
RAPAT KOORDINASI KPUD dengan TIM SOSIALISASI

KEGIATAN SOSIALISASI BAHAYA NARKOBA OLEH GEPENTA

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA dengan POLRESTA BEKASI

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA dengan POLRESTA BEKASI

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA dengan POLRESTA BEKASI

RAPAT KOORDINASI KEGIATAN SOSIALISASI BAHAYA NARKOBA

KOORDINASI GEPENTA dengan TNI AD
SPANDUK KAMPANYE ANTI NARKOBA 2011
KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA DGN KPUD BEKASI

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA DGN KPUD BEKASI

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA DGN KPUD BEKASI

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA DGN KPUD BEKASI

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA DGN KPUD BEKASI

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA DGN KPUD BEKASI

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA DGN KPUD BEKASI

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA DGN KPUD BEKASI

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA DGN KPUD BEKASI

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA DGN KPUD BEKASI

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA DGN KPUD BEKASI

KUNJUNGAN & KOORDINASI GEPENTA DGN KPUD BEKASI
COVER PROPOSAL KEGIATAN GEPENTA 2011

KOORDINASI GEPENTA DGN BNK KAB. BEKASI


GEPENTA DGN BNK KAB. BEKASI MENYAMBUB HARI ANTI NARKOBA 2010

GEPENTA DGN BNK KAB. BEKASI MENYAMBUB HARI ANTI NARKOBA 2010

GEPENTA DGN BNK KAB. BEKASI  HARI ANTI NARKOBA 2010

GEPENTA DGN BNK KAB. BEKASI  HARI ANTI NARKOBA 2010

KUNJUNGAN DPK GEPENTA ke BEKASI EKSPO'2011

KUNJUNGAN DPK GEPENTA ke BEKASI EKSPO'2011

PANTAUAN dan PENGAWASAN PELAKSANAAN PILKADES SATRIAJAYA

PANTAUAN dan PENGAWASAN PELAKSANAAN PILKADES SATRIAJAYA

PANTAUAN dan PENGAWASAN PELAKSANAAN PILKADES SATRIAJAYA

PANTAUAN dan PENGAWASAN PELAKSANAAN PILKADES SATRIAJAYA

PANTAUAN dan PENGAWASAN PELAKSANAAN PILKADES SATRIAJAYA
SOSIALISASI BAHAYA NARKOBA DI RAPAT MINGGON DESA

BANTUAN KEGIATAN GEPENTA DARI LASEGAR

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

KEGIATAN PENGAWASAN LINGKUNGAN

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

PENGAWASAN DAN PENDAMPINGAN KUNJUNGAN BUPATI KE SATRIAJAYA

PENGAWASAN DAN PENDAMPINGAN KUNJUNGAN BUPATI KE SATRIAJAYA

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

SPANDUK MENYAMBUT HARI ANTI NARKOBA 2011

PANFLET HARI ANTI NARKOBA se-DUNIA 2011

GEPENTA & BNK, PERESMIAN GEDUNG IKATAN BIDAN BEKASI 2010














PENGAWASAN LEGIATAN PANITIA PEMILIHAN PILKADES SATRIAJAYA